Meski begitu, Amorim memperlihatkan sikap tegas dengan Rashford dan Garnacho, langkah yang sejalan dengan filosofi Sir Alex Ferguson. Sang legenda United dikenal tidak segan menyingkirkan pemain bintang jika dianggap mengganggu atmosfer ruang ganti. David Beckham, Roy Keane, hingga Ruud van Nistelrooy adalah contoh nyata.
Dalam wawancara bersama Harvard Business Review pada 2013, Ferguson menegaskan prinsipnya menangani tim.
“Sebelum saya datang ke United, saya berkata pada diri sendiri saya tidak akan membiarkan siapa pun lebih kuat dari saya. Kepribadian Anda harus lebih besar daripada mereka. Itu vital,” ujarnya, dikutip dari Sport Bible.
“Jika ada pemain yang merusak atmosfer ruang ganti, memengaruhi performa tim, dan kontrol manajer, Anda harus memutuskan ikatan. Tidak peduli seberapa hebat pemain itu. Pandangan jangka panjang klub jauh lebih penting daripada individu mana pun, dan manajer harus menjadi yang terpenting di klub,” katanya.
Dia juga menambahkan, “Jika saya melakukan pekerjaan dengan baik, para pemain akan menghormati saya, dan itu sudah cukup. Saya cenderung bertindak cepat saat melihat pemain jadi pengaruh buruk. Beberapa orang mungkin bilang saya impulsif, tapi itu penting agar saya tidak tidur dengan keraguan. Saya bangun keesokan harinya dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga disiplin.”
Ketegasan seperti itulah yang kini ditunggu dari Amorim. Apakah dia akan memberi Sancho kesempatan kedua, atau justru mengikuti teladan Ferguson untuk melindungi kepentingan tim di atas segalanya.
Saat ini, negosiasi antara Roma dan United sempat disebut hampir selesai lewat skema pinjaman dengan kewajiban membeli. Namun, Sancho juga dikaitkan dengan Juventus, Inter Milan, klub-klub Turki, dan bahkan tim Arab Saudi.
Besiktas yang kini dilatih Ole Gunnar Solskjaer sempat disebut sebagai tujuan, tetapi Romano menegaskan Sancho tidak akan mempertimbangkan mereka setidaknya hingga September. Bursa transfer Turki sendiri baru akan ditutup pada 12 September.
Drama Sancho jelas belum berakhir, tetapi sejarah menunjukkan hanya ketegasan seperti Sir Alex Ferguson yang bisa menjaga stabilitas ruang ganti United. Pertanyaannya, apakah Ruben Amorim berani mengambil langkah serupa?