MADRID, iNews.id – Bintang Real Madrid, Jude Bellingham, kembali menjadi sorotan publik usai kemenangan 2-1 atas Barcelona dalam laga El Clasico di Stadion Santiago Bernabéu, akhir pekan lalu. Pemain berusia 22 tahun itu dituding menyindir Lamine Yamal lewat unggahan Instagram pascalaga.
Bellingham, yang mencetak gol kemenangan Real Madrid, mengunggah foto dirinya tengah merentangkan tangan dengan keterangan: “Talk is cheap. Hala Madrid siempre.” (Bicara itu mudah. Hala Madrid selamanya.)
Unggahan tersebut ditafsirkan banyak pihak sebagai sindiran kepada Yamal, pemain 18 tahun Barcelona yang sebelum laga menuding Madrid sebagai tim yang “suka mencuri dan mengeluh”.
Tak berhenti di situ, Bellingham juga menambahkan lagu “A Little Less Conversation” milik Elvis Presley di Instagram Story-nya, yang makin mempertegas pesan sinis terhadap rivalnya tersebut.
Kontroversi ini muncul di tengah periode sulit Bellingham di level internasional. Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, sebelumnya tidak memasukkan nama Bellingham dalam skuad terbarunya. Tuchel menegaskan “standar perilaku adalah hal yang tidak bisa ditawar”, ketika ditanya soal absennya sang gelandang.
Pelatih asal Jerman itu menyatakan akan berbicara langsung dengan Bellingham sebelum memutuskan apakah akan memanggilnya kembali untuk kualifikasi Piala Dunia bulan depan.
Dua mantan pundit Sky Sports, Richard Keys dan Andy Gray, turut mengkritik sikap Bellingham. Mereka menilai pemain muda itu mulai kehilangan fokus dan perspektif di luar lapangan.
“Saya pikir dia punya semua atribut untuk menjadi salah satu yang terbaik, jika bukan yang terbaik yang pernah dimiliki Inggris di posisinya,” ujar Keys di beIN Sports.
“Tapi dia punya ayah yang terlalu ikut campur, tidak populer, dan justru membuatnya semakin tidak disukai dengan pernyataan-pernyataan yang keluar sebelum turnamen terakhir.
“Kalau dia ingin kembali ke skuad dan jadi bagian dari tim untuk Piala Dunia mendatang, dia harus memperbaiki hubungannya. Dan bagi saya, itu membutuhkan perubahan besar dalam sikapnya. Bukan bakatnya — karena itu tidak diragukan — tapi sikapnya yang salah,” tambah Keys.
Sementara Gray menilai, pelatih seperti Tuchel tidak akan memberi ruang bagi pemain yang tidak selaras dengan nilai tim nasional.
“Kalau ada satu pemain, sebaik apa pun dia, tapi perilakunya berdampak pada tim nasional, maka dia tidak bisa dipertahankan. Tapi kalau dia bisa menerima kritik dan kembali bersatu dengan grup, saya tidak bisa melihat Inggris membiarkan bakat sebesar itu menganggur di rumah,” ucap Gray.