“Bahkan di Indonesia, saya suka menggoda dan bercanda dengan pemain yang bahkan tidak saya kenal bahasanya, dan begitulah saya menjadi dekat dengan mereka. Lalu, mereka melempar saya ke air. Selalu seperti itu,” ungkapnya.
Salah satu contoh yang disebutkan adalah saat ia bercanda dengan Marselino Ferdinan dengan menjewer telinganya—bukan sebagai hukuman, tapi sebagai bentuk kedekatan layaknya kakak kepada adik.
Menanggapi lebih lanjut soal tuduhan kasar di Ulsan, Shin Tae-yong mengakui bahwa ia memang sempat menggoda beberapa pemain saat pertama datang. Namun, semua itu menurutnya murni bentuk interaksi sosial agar suasana ruang ganti tidak kaku.
“Di Ulsan, ketika pertama kali tiba, saya akui pernah menggoda beberapa pemain karena kami canggung. Saya mengakuinya saat wawancara dengan tim. Untuk lebih dekat dengan mereka, saya akan mendekati mereka dan mengatakan hal-hal seperti, ‘Hei, dasar anak kecil,’ dan bahkan menarik telinga mereka,” jelasnya.
“Namun, tidak ada sedikit pun niat jahat. Suasananya bukan seperti memarahi, hanya upaya bercanda untuk membuat suasana menyenangkan. Saya tidak pernah memaki siapa pun di ruang ganti, bahkan setelah kekalahan besar. Saya tidak pernah melakukan kekerasan emosional. Jika saya melakukannya, saya tidak akan melatih lagi, tidak akan pernah lagi,” tegasnya.