Paku Buwono X kemudian mendirikan stadion Sriwedari lengkap dengan lampu, sebagai apresiasi terhadap kebangkitan 'Sepak bola Kebangsaan" yang digerakkan PSSI. Stadion Sriwedari kemudian diresmikan pada Oktober 1933 dan semakin membuat gencar kegiatan persepakbolaan.
Lebih jauh lagi, Soeratin juga turut mendorong pembentukan badan olahraga nasional. Hal itu agar kekuatan olahraga pribumi semakin kokoh, khususnya dalam melawan dominasi penjajah Belanda. Hingga pada tahun 1938, berdirilah ISI (Ikatan Sport Indonesia), yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olahraga (15-22 Oktober 1938) di Solo. Ini juga yang di kemudian hari menjadi cikal bakal PON pertama di Indonesia tahun 1948.
Pekan Olahraga Nasional (PON)pertama kali yang dilaksanakan di Stadion Sriwedari Surakarta/Solo pada 9 September 1948. PON dicetuskan oleh Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) yang merupakan perkembangan dari ikatan Sport Indonesia (ISI).
Karena PSSI semakin kuat, NIVB pada tahun 1936 akhirnya berubah menjadi NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Unie) dan mulai merintis kerjasama dengan PSSI.
Sebagai tahap awal, NIVU mendatangkan tim dari Austria yakni Winner Sport Club pada tahun 1936. Dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1938, atas nama Dutch East Indies, NIVU mengirimkan timnya ke Piala Dunia 1938 di Prancis.