Skandal ini datang hanya beberapa hari setelah Real Madrid menerapkan protokol anti-rasisme saat bertemu Benfica karena dugaan pelecehan rasial terhadap Vinicius Junior.
UEFA menangguhkan Gianluca Prestianni sementara menunggu penyelidikan lebih lanjut, dan jika terbukti bersalah, Prestianni akan menghadapi larangan minimum 10 pertandingan.
Waktu munculnya skandal ini dianggap sangat sensitif karena klub berupaya tampil sebagai contoh penegakan anti-rasisme di tingkat internasional. Kasus Huijsen menambah sorotan terhadap bagaimana klub menangani perilaku pemain di media sosial.
Real Madrid kini harus menghadapi tekanan ganda: menjaga citra internasional sekaligus memastikan pemainnya memahami batasan etika digital, terutama di pasar global seperti China.