Setelah pindah ke Manchester City pada 2024, nasibnya tak jauh berbeda. Dia kembali cedera dari September hingga awal tahun. Saat pulih, skuad U-21 sudah stabil dan sulit ditembus. Kondisi ini membuatnya mempertimbangkan masa depan jangka panjang di luar sepak bola.
Namun cedera bukan satu-satunya alasan. Willhoft-King mengakui bahwa minat akademis selalu menarik baginya. Ayahnya mantan dosen filsafat, sementara ibunya seorang arsitek. Ketika Spurs memberinya tutor pribadi untuk A-Level, dia menunjukkan kecemerlangan: A+ untuk matematika, ekonomi, dan sejarah.
Pada masa terberatnya di Spurs, dia sempat berencana kuliah di Amerika Serikat dan bahkan menerima tawaran dari UCLA. Dia juga menandatangani kontrak enam bulan dengan FC Cincinnati 2 sebagai jalan menuju MLS Draft. Tetapi semuanya berubah ketika Manchester City menawarkan kontrak satu tahun plus opsi tambahan.
“Saya merasa akan menyesal jika tidak mengambil kesempatan di Man City,” katanya. Setelah merasakannya, dia akhirnya bisa melangkah pergi dengan lega karena sudah mencoba segalanya.
Willhoft-King mengaku sangat terkesan saat pertama kali dipanggil Pep Guardiola ke latihan tim utama. “Melihat Pep … dia sangat, sangat ekspresif. Energinya luar biasa,” ujarnya.