“Namun, kami harus menunjukkannya lagi dan lagi karena jika hanya menganalisis perasaan setelah setiap pertandingan, itu seperti naik rollercoaster besar dan tidak akan berkelanjutan," ujarnya.
Arteta mengungkapkan periode 72 jam setelah laga melawan Wolves menjadi ujian mental bagi timnya.
“Saya tidak bisa lebih bangga dan lebih bahagia atas apa yang saya lihat di lapangan, terutama cara kami menjalani 72 jam terakhir karena pertandingan ini membutuhkan konteks khusus," tuturnya.
Dia menyinggung kekecewaan akibat kehilangan dua poin di detik akhir.
“Setelah apa yang terjadi melawan Wolves dan cara kami kehilangan dua poin pada tendangan terakhir pertandingan, itu sangat berat. Namun, itulah indahnya sepak bola. Tidak ada penjelasan saat menonton ulang pertandingan bagaimana kami bisa bermain imbang. Dari sudut mana pun Anda melihatnya, Anda akan berkata itu mustahil, lalu Anda menontonnya lagi dan merasa itu tidak akan terjadi," ucapnya.
Arteta juga berbicara soal gejolak emosi di ruang ganti.
“Namun itu terjadi, dan Anda harus bangkit karena Anda merasa marah, kecewa, dan pada satu titik merasa malu. Kami semua berasal dari berbagai negara, memiliki perasaan berbeda, lalu Anda harus menyatukan semuanya. Sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama mereka, menyelaraskan semua orang, dan mengatakan, ‘Oke, apa yang akan terjadi di bab berikutnya?’”