"Regional Jakarta ini merupakan peserta terbanyak dibanding tiga regional lainnya. Ada 16 tim untuk U-15 dan 10 tim di U18. Sementara dari segi kualitas kami melihat dari pekan pertama sampai saat ini sangat jauh meningkat. Karena setiap pekan mereka bertanding, dan sebelum pertandingan berlatih tiga sampai empat kali. Menjalani kompetisi liga selama kurang lebih enam bulan tentu bukan hal yang mudah. Kami melihat semangat, daya juang, dan komitmen yang luar biasa dari para atlet. Pengalaman seperti ini sangat penting untuk membentuk kemampuan teknis, karakter, disiplin, dan mental juara yang dibutuhkan untuk menjadi pesepak bola profesional di masa depan," ujar Teddy.
Teddy juga menegaskan komitmen Djarum Foundation melalui Bakti Olahraga dalam memperkuat ekosistem sepak bola putri nasional secara berkelanjutan. Jalur pembinaan dirancang berjenjang mulai dari MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2025–2026, Hydroplus Soccer League All-Stars 2025/2026, hingga Srikandi Merdeka Cup 2025 yang melibatkan sejumlah negara Asia.
Dia berharap kolaborasi dengan PSSI terus berjalan guna mendorong lahirnya lebih banyak pesepak bola putri berprestasi.
"Kami berupaya menghadirkan jalur pembinaan yang jelas bagi atlet putri. Harapannya para pemain mendapatkan pengalaman kompetitif yang berjenjang sehingga mampu mengembangkan bakat dan kemampuan mereka secara optimal. Sinergi yang baik antara seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci penting dalam membangun ekosistem sepak bola putri yang kuat. Semoga kerja sama yang telah terjalin dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak atlet putri Indonesia yang berkembang dan mampu berprestasi di level yang lebih tinggi," tutup Teddy.
Exco PSSI, Vivin Cahyani Sungkono, menilai Hydroplus Soccer League berperan strategis sebagai basis pengembangan sekaligus pemantauan bakat Timnas Putri Indonesia. Menurut dia, format liga memberi ruang konsistensi performa yang sulit didapat dari turnamen singkat.