Pastoor menuturkan, sambutan masyarakat Indonesia sejak hari pertama kedatangannya sangat berkesan. Dia merasakan energi besar dari para penggemar yang begitu mencintai sepak bola dan menaruh harapan besar pada setiap pertandingan.
“Di awal masa kerja kami, atmosfernya luar biasa. Semua orang begitu ramah, dan ekspektasi sangat tinggi,” katanya.
“Tapi itu tidak pernah dibahas,” tambah dia, menegaskan bahwa fokus tim hanya tertuju pada kerja di lapangan.
Selama hampir satu tahun menangani Timnas Indonesia, Pastoor mengaku sudah memberikan segala yang dia bisa. Bersama staf kepelatihan lainnya, dia berusaha mengembangkan potensi pemain agar mampu bersaing di level tertinggi Asia.
Namun, Pastoor juga menyadari bahwa perjuangan Timnas Indonesia masih panjang. Kualitas lawan-lawan yang dihadapi di putaran empat kualifikasi, seperti Arab Saudi dan Irak, berada di level yang jauh lebih tinggi.
“Saya rasa kami telah melakukan itu sepenuhnya. Tapi itu tidak cukup untuk mengalahkan negara-negara sekaliber ini,” tuturnya.
Kendati begitu, Pastoor berharap sepak bola Indonesia terus berkembang dengan fondasi yang lebih kuat. Dia percaya, dengan pembinaan jangka panjang dan dukungan penuh dari masyarakat, Timnas Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di masa depan.
Kini, kepergian Pastoor menandai akhir satu babak dalam perjalanan Timnas Indonesia. Namun, semangat dan kesan positif yang dia tinggalkan bisa menjadi pengingat bahwa cinta dan dukungan publik adalah aset berharga dalam membangun masa depan sepak bola nasional.