Beranjak dewasa ketika Evan ingin masuk Sekolah Sepak Bola (SSB), ibunya melarang sebab enggan melihat Evan jatuh bangun di lapangan.
Sebelum menjadi bintang, sang ayah berprofesi sebagai petugas keamanan dan penjual sayuran. Sementara, sang ibu pernah bekerja ‘serabutan’ untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, kerja keras dan kemauan Evan yang kuat berhasil membuat hati ibunya luluh dan mendaftarkannya di SSB Sakti di Kompleks TNI AL.
Di balik kesuksesan kariernya menjadi pesepak bola, ibunya hanya pedagang nasi di samping Lapangan Rungkut. Keputusan dirinya menjadi pesepak bola sempat ditentang ayahnya lantaran keterbatasan ekonomi.
Sebagai anak dari keluarga yang memiliki dana pas-pasan, Supriadi bekerja keras demi berkarier di dunia sepak bola. Untuk membeli sepatu saja, pesepak bola berusia 20 tahun ini kerap mengikuti tarkam bersama Rungkut FC.