Meski terlihat menguntungkan, pengamat sepak bola nasional Kesit Budi Handoyo menilai dampaknya tidak terlalu besar. Dia menyebut keuntungan utama hanya terasa saat pemusatan latihan.
“Keuntungannya tidak banyak. Timnas hanya diuntungkan saat TC,” kata Kesit kepada iNews Media Group, Minggu (1/3/2026).
Dia menambahkan, “Para pemain diaspora yang berkiprah di Super League lebih mudah dikumpulkan dan sudah bisa langsung beradaptasi. Mereka lebih cepat menyatu dengan iklim sepakbola nasional, khususnya dengan pemain-pemain timnas yang berasal dari klub Super League.”
Menurut dia, situasi berbeda terjadi saat para pemain tersebut masih berkarier di luar negeri. Waktu perjalanan dan adaptasi menjadi tantangan tersendiri bagi tim pelatih.
“Berbeda ketika mereka masih bermain di luar, di mana mereka butuh waktu untuk tiba di Indonesia. Belum lagi adaptasi cuaca serta membangun chemistry,” terang dia.
Dalam waktu dekat, Timnas Indonesia akan tampil di ajang FIFA Series 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 27-30 Maret 2026. Turnamen mini ini menghadirkan empat negara dari konfederasi berbeda, yakni Indonesia, Bulgaria, Kepulauan Solomon, dan St. Kitts and Nevis.
Skuad Garuda dijadwalkan menghadapi St. Kitts and Nevis pada 27 Maret 2026. Jika menang, tim asuhan John Herdman melaju ke partai final dan bertemu pemenang laga Kepulauan Solomon melawan Bulgaria. Momentum banyaknya pemain diaspora di Super League menjadi salah satu faktor yang bisa dimaksimalkan menjelang agenda penting tersebut dan Piala AFF 2026.