Raymond juga mengungkap tantangan berat selama menjalani tur Eropa 2026. Jadwal padat membuat dia dan pasangannya harus cepat beradaptasi dengan berbagai kondisi pertandingan.
Dia menyebut perbedaan karakter shuttlecock menjadi kendala utama. Kondisi di Orleans dinilai berbeda dibanding turnamen sebelumnya seperti All England dan Swiss Open, sehingga memengaruhi permainan mereka.
“Dalam tiga turnamen ini, kami harus cepat beradaptasi dengan perubahan situasi lapangan. Kami belum maksimal menyesuaikan diri, terutama dengan kondisi shuttlecock yang berbeda,” kata dia.
Sementara itu, Nikolaus Joaquin menekankan pentingnya kontrol emosi dalam pertandingan. Dia menilai aspek mental menjadi faktor krusial, terutama saat menghadapi tekanan di laga penentuan.
Menurut dia, menjaga ketenangan pikiran akan membantu menjalankan strategi dengan lebih baik. Hal ini menjadi fokus utama untuk peningkatan performa ke depan.
“Kami harus belajar mengontrol emosi. Tur Eropa dengan tiga turnamen ini tidak mudah, terutama dalam menjaga fokus pikiran. Ini harus kami perkuat,” ujar dia.
Hasil di Orleans Masters 2026 menambah pengalaman bagi pasangan muda Indonesia tersebut. Mereka menargetkan perbaikan di aspek teknis dan mental agar tampil lebih konsisten di turnamen berikutnya.