Inggris: Tempat Triple Crown Menjadi Legenda
Di tanah kelahiran pacuan kuda modern, Triple Crown adalah mimpi yang nyaris mustahil. Terakhir kali diraih oleh Nijinsky (1970). Sejak itu, tak satu pun berhasil, termasuk Camelot (2012) yang jatuh di ujung jalan, St. Leger.
Jepang: Sambakan, Simbol Keteguhan Setengah Tahun
Jepang menuntut stamina jangka panjang: dari Satsuki Sho hingga Kikuka Sho, membentang dari April sampai Oktober. Hanya delapan kuda jantan yang menaklukkannya, dengan Contrail (2020) sebagai penakluk terakhir. Untuk kuda betina, Triple Tiara diukir nama-nama agung seperti Apapane, Gentildonna, dan Liberty Island (2023).
Australia: Dua Jalur Mahkota, Dua Dunia Berbeda
Triple Crown untuk kuda jantan? Ada. Untuk sprinter? Ada juga. Dari Octagonal (1996) hingga It’s A Dundeel (2013), medan Australia tak kalah berat. Untuk spesialis sprint, hanya segelintir yang mampu mendekat. Namun jika bicara kecepatan murni, Black Caviar adalah ratu tak tertandingi: 25 kemenangan tanpa pernah kalah.
Hong Kong: Ujian Dewasa yang Nyaris Tak Terlampaui
Uniknya, Triple Crown Hong Kong terbuka untuk kuda dewasa, bukan hanya usia 3 tahun. Tantangannya sangat berat, hingga kini hanya dua kuda yang berhasil: River Verdon (1994) dan Voyage Bubble (2025).
Indonesia dan Mahkota yang Belum Lagi Terjamah
Indonesia punya versinya sendiri dari Triple Crown: tiga seri berjenjang—April (1.200 meter), Mei (1.600 meter), dan puncaknya Juli (2.000 meter) di Indonesia Derby. Sejak awal sejarahnya, hanya dua kuda yang berhasil menyapu bersih: Manik Trisula (2002) dan Djohar Manik (2014). Setelah itu, mahkota hanya jadi kenangan.