Bagi Hasto, lari pagi merupakan bentuk refleksi sekaligus penyelarasan diri dengan nilai perjuangan dan daya juang. Ia menegaskan bahwa karakter marathon—strategi, ketangguhan, dan konsistensi—sangat relevan dengan dinamika kehidupan berbangsa.
“Melalui olahraga lari, kita belajar bahwa tidak ada kemenangan tanpa persiapan, dan tidak ada pertumbuhan tanpa tantangan," ujarnya.
Kategori 10K yang diikutinya memiliki waktu batas penyelesaian dua jam. Selain 10K, ribuan pelari dari berbagai negara juga meramaikan kategori Marathon dan Half Marathon, menjadikan Borobudur Marathon 2025 sebagai salah satu event lari paling bergengsi di Asia Tenggara.
Sepanjang rute 10 kilometer, peserta dimanjakan pemandangan autentik pedesaan Jawa Tengah: hamparan sawah hijau, jalan desa yang tenang, hingga deretan rumah tradisional. Sesekali terdengar alunan musik lokal dan teriakan penyemangat dari warga yang berdiri di tepi jalan, memberikan dorongan moral bagi pelari.
Keindahan Bukit Menoreh yang mengelilingi kawasan turut menghadirkan panorama dramatis. Kabut pagi yang menggantung di puncak bukit menambahkan nuansa mistis, menjadikan setiap langkah bukan hanya tantangan fisik, tetapi juga pengalaman emosional dan spiritual yang mendalam.