Sementara dua pasangan lainnya, Lanny Tria Mayasari/Amallia Cahaya Pratiwi dan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti, masih berada dalam tahap evaluasi. Karel menegaskan belum ada keputusan final terkait formasi dan masa depan keduanya karena berbagai aspek perlu ditinjau lebih dalam.
Dia menjelaskan bahwa perbedaan perkembangan membuat proses evaluasi harus lebih teliti, terutama ketika pemain belum menemukan ritme terbaik.
“Mungkin dari pemain kadang feel-nya belum dapat. Dua pasang itu (Apriyani/Fadia dan Lanny/Tiwi) memang belum ketemu feel-nya, walaupun sudah diomongkan dan diarahkan. Mereka masih punya penangkapan masing-masing,” papar Karel.
Menurut Karel, chemistry Apriyani/Fadia belum kembali seperti sebelumnya, sehingga keputusan akhir mengenai keberlanjutan pasangan itu belum dapat diambil. Dia memastikan diskusi bersama Nitya Krishinda Maheswari wajib dilakukan sebelum hasilnya disampaikan kepada Kabid Binpres PBSI, Eng Hian.
"Saya akan meeting dulu bersama Nitya. Mereka baru main beberapa turnamen, jadi kami bicarakan dulu sebelum disampaikan ke binpres kalau ada rencana baru. Untuk sementara belum ada keputusan," ujarnya.
Apriyani/Fadia menutup musim dengan tampil di Australian Open Super 500 sebelum mundur dari tiga turnamen beruntun: Syed Modi International, Guwahati Masters, dan Odisha Masters. Lanny/Tiwi dijadwalkan tampil di Astana International Challenge pada Desember 2025 sebagai bagian dari proses evaluasi performa mereka.
Dengan komposisi baru dan proyeksi yang lebih terarah, sektor ganda putri Indonesia memasuki fase penting untuk memastikan kekuatan terbaik jelang Race to Olympic 2028.