Menurut Hendrawan, sistem skor baru BWF 15 poin x 3 game yang mulai berlaku pada Januari 2027 membuat aspek teknik semakin penting, terutama di sektor putri.
“Ke depan dengan format permainan yang cenderung lebih cepat, faktor teknik menjadi semakin penting. Untuk atlet putri, kami melihat penguasaan teknik, footwork, dan kontrol lapangan sebagai aspek utama. Namun tentu tidak mengesampingkan faktor lain seperti mental dan karakter. Fighting spirit juga menjadi salah satu hal yang kami perhatikan, terutama saat mereka memasuki fase-fase akhir seleksi,” jelasnya.
Sementara itu, Leonard Holvy de Pauw menilai atlet putra masa depan harus memiliki kombinasi teknik dasar kuat, kecerdasan membaca permainan, agresivitas, dan daya tahan tinggi.
“Kami mencari pemain yang punya basic kuat, agresif, dan endurance tinggi. Tapi yang paling penting adalah atlet yang smart dan punya fighting spirit. Smart di sini artinya mereka bisa membaca permainan dan mengantisipasi lawan sejak dini, sehingga bermain lebih efisien. Selain itu, kami juga melihat karakter pemain luar Jawa, khususnya dari Sumatra dan Sulawesi, yang umumnya memiliki strength, daya juang, dan fisik lebih kuat. Ini menjadi modal penting yang bisa kami kembangkan lebih lanjut melalui pembinaan di PB Djarum,” papar Holvy.
Lulusan Audisi Umum PB Djarum 2018 Pekanbaru, Jolin Angelia, ikut memberi motivasi kepada calon peserta agar memanfaatkan kesempatan emas ini dengan persiapan maksimal.