Perubahan format juga diterapkan pada turnamen mayor. Kejuaraan Dunia akan menggunakan fase grup agar setiap atlet minimal bermain dua kali, sedangkan Piala Sudirman serta Piala Thomas & Uber melibatkan lebih banyak tim untuk memperluas representasi negara peserta.
Lonjakan jumlah turnamen berbanding lurus dengan peningkatan finansial. Total hadiah uang tahunan World Tour diproyeksikan mencapai USD 26,9 juta atau sekitar Rp426 miliar, angka yang mempertegas daya tarik ekonomi bulu tangkis global.
Presiden BWF Khunying Patama Leeswadtrakul menegaskan transformasi ini sebagai langkah strategis jangka panjang. Dia menilai perubahan tersebut menjadi fondasi penting bagi masa depan olahraga raket tersebut.
“Kami tidak hanya membentuk serangkaian turnamen, kami membentuk budaya, identitas, dan peluang. Bulu tangkis harus imersif, cerdas, dan tak terlupakan,” ujar Leeswadtrakul dikutip dari laman resmi BWF, Senin (9/2/2026).
Untuk periode 2027–2030, BWF juga menetapkan daftar tuan rumah di setiap level turnamen. Penentuan ini menegaskan ekspansi global World Tour ke Asia, Eropa, Amerika, hingga Australia.
Super 1000: China, Denmark, Inggris, Indonesia, Malaysia.
Super 750: China, Prancis, Hong Kong, India, Jepang.
Super 500: Australia, Jerman, Finlandia, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Thailand.
Super 300: Kanada, Taiwan, Prancis, Jerman, Makau, Swiss, Thailand, Amerika Serikat.
Super 100: China, Taiwan, India, Indonesia, Malaysia, Belanda, Filipina, Vietnam.