Warga Gunungkidul Gelar Jamasan Pusaka di Bekas Wilayah Kadipaten Mangkunegaran Solo

erfan erlin
Prosesi jamasan Kyai Totog di kapanewon Ngawon, Gunungkidul. (foto: MPI/Erfan Erlin)

Jamasan pusaka tersebut menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat Ngawen untuk melaksanakannya. Karena jamasan mengandung makna membersihkan hal-hal negatif yang ada di sekitar mereka. Jika tidak melaksanakan maka akan ada bencana lebih besar.

Mbah Yatmo, Sang Juru Jamas mengatakan, jamasan pusaka tidak dilaksanakan secara serampangan. Untuk melaksanakan jamasan pusaka harus didahului dengan perilaku prihatin dengan sesuatu ritual tertentu.

Untuk cairan yang digunakan sebagai cairan jamasan, sebenarnya adalah cairan arsenik yang mengandung racun. Sehingga jamasan pusaka harus dilaksanakan di bawah sinar terik matahari. Tujuannya untuk mengusir racun yang ada.

"Tentu kalau jaman dahulu ada makna tertentu," katanya. 

Kapanewon Ngawen dulunya berada di bawah Kadipaten Mangkunegaran Solo. Namun setelah Indonesia merdeka masuk wilayah DIY. 

Editor : Kuntadi Kuntadi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Hujan Deras Picu Longsor Bukit Clongop, Jalur Penghubung Jateng–DIY Ditutup

57 tahun lalu

Hati-Hati Modus Kejahatan, Penipuan Jual Beli Online Emas Antam Diungkap Polres Gunungkidul

57 tahun lalu

3 Jalur Alternatif ke Gunungkidul Ini Jadi Favorit Wisatawan Lokal, Cocok untuk Weekend Trip

57 tahun lalu

Tenda Drag Race di Gunungkidul Roboh Diterjang Hujan dan Angin Kencang, Sejumlah Mobil Rusak

57 tahun lalu

Diterjang Hujan dan Angin Kencang, Tenda Arena Balap Mobil di Gunungkidul Porak-poranda

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal