Mudah-mudahan keluarga yang ditinggal tetap diberikan kekuatan dan dapat menjalankan dalam memperjuangkan perdamaian dan mengejawantahkan ditengah masyarakat yang beragam. "Saya banyak berutang rasa dan belajar makna toleransi dari cara Mas Djaduk di dalam kehidupan ini," kata Lukman.
Dia mencontohkan saat Kua Etnika tampil di Kota Batu pada 2012. Ketika bermain musik dan di masjid ada yang melantunkan puji-pujian, Djaduk menghentikan pertunjukkannya. Meskipun Lukman dan wali kota Batu meminta tetap melanjutkannya, tapi Djaduk mengatakan tidak sampai hati jika tetap bermain karena merasa akan menyaingi puji-pujian itu.
"Itulah pelajaran toleransi yang saya dapat dari beliau. Marilah menghantar kepulangannya, mudah-mudahan dapat pulang dengan tenang dan tentram di surganya," katanya.
Perwakilan keluarga Irjen Pol (Purn) Haka Astana mengucapkan terima kasih kepada semua yang datang guna memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Djaduk Ferianto yang dipanggil Tuhan, Rabu (13/11/2019) pukul 02.30 di pangkuan istrinya, Petra.
“Mewakili keluarga kamu mohon maaf jika ada salah dan perbuatan yang tidak berkenan. Berikan maaf semoga arwah almarhum Djaduk diterima sesuai amal bakti, dan keluarga yang ditinggal tabah serta bisa mempejuangkan apa yang diharapkan Djaduk," kata mantan Kapolda DIY ini.