Perangkat ini, kata Danang, bakal mengirimkan data dengan jangka waktu setiap dua menit sekali kepada server yang dikelola BPBD Kulonprogo.
Bila terjadi longsor atau penetapan status waspada, Pusdalops BPBD Kulonprogo bakal menyalakan sirine yang telah dipasang di permukiman warga. “Perangkat baru ini lebih efisien dan efektif dibanding yang lama,” ucapnya.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengatakan, selain memasang perangkat pemberi sinyal bencana, BPBD tetap mengimbau masyarakat terkait bahaya bencana tanah longsor yang bisa terjadi kapan saja.
Menurut dia, masyarakat diminta tak hanya mengandalkan EWS ataupun perangkat yang telah dipasang di titik-titik tertentu, namun juga menajamkan kepekaan terhadap kondisi alam. “Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, karena alat ada risiko kerusakan,” katanya.