Pengusaha Pertashop Mengeluh, Terus Merugi dan Banyak yang Tutup

erfan erlin
Sejumlah pengusaha pertashop memilih untuk menutup usahanya karena terus mengalami penurunan omzet. (Foto ilustrasi: iNews.id/kuntadi)

GUNUNGKIDUL, iNews.id-Sejumlah pengusaha pertashop memilih untuk menutup usahanya karena terus mengalami penurunan omzet penjualan usai lonjakan harga pertamax beberapa waktu yang lalu. Mereka mengaku tak mampu lagi membayar karyawan.

Meskipun harga pertamax sudah turun kembali menjadi Rp12.800 namun ternyata tak lantas membuat usaha mereka normal kembali sama seperti ketika harga di Rp10.000 perliternya. Ada yang memilih untuk menutup usaha mereka namun ada juga tetap melanjutkan bisnisnya dengan strategi khusus.

Pengusaha pertashop asal Gunungkidul, Setya Prapanca mengatakan, sejak harga pertamax turun ke Rp12.800 memang ada yang mencatat kenaikan penjualannya, ada yang tetap stabil namun miliknya pribadi justru malah turun. Menurut dugaan dia memang sudah perilaku konsumen yang sudah berubah.

"Konsumen sudah enggak balik lagi ke pertamax,"kata mantan Sekjen Merah Putih (Pengusaha Pertashop) DPD DIY-Jateng ini, Jumat (24/2/2023).

Kondisi tersebut diperparah dengan semakin banyak penjual pertalite bermunculan karena menyiasati lonjakan harga pertamax beberapa waktu lalu. Di samping memang disparitas harga yang cukup tinggi antara pertamax dengan pertalite. 

Dia mengakui jika satu persatu mulai bertumbangan karena terus merugi dan tidak bisa membayar karyawan. Jika sekarang masih ada pertashop yang mangkrak meskipun sudah selesai dibangun, hal tersebut karena perizinan belum selesai bukan karena takut merugi. "Perizinan dulu sama sekarang memang berbeda ternyata," ujar dia.

Dia mengungkapkan untuk saat ini  perizinan harus selesai di awal baru boleh beroperasi. Namun dulu sewaktu masa percepatan pembangunan, ada dispensasi dengan membalik prosesnya di mana ketika Pertashop sudah selesai dibangun dan boleh beroperasi dulu sambil perizinan di perjalanan.

Dia mengakui jika waktu pertama buka lalu yaitu saat harga pertamax masih di angka Rp10.000 penjualan terus mengalami kenaikan. Namun ketika harga melonjak naik maka perlahan-lahan turun dan jika diakumulasi ternyata tidak mampu menutup biaya operasional.

Konsumen yang awalnya sudah menggunakan pertamax akhirnya beralih ke pertalite lagi, bahkan pengguna pertamax lama justru memilih pertalite karena disparitas harganya cukup besar. Di samping memang para pengecer pertalite bermunculan memanfaatkan peluang ini. "Di Gunungkidul yang sudah tutup ada 5,"ujarnya.

Menurutnya, Pertashop yang tidak beroperasi saat ini ada dua permasalahan. Yang pertama karena memang omzet masih kecil dan tidak kuat membayar karyawan dan yang kedua karena belum melengkapi perizinan yg dipersyaratkan Pertamina.

Melihat kondisi ini, lanjut dia, Pertamina sebenarnya responsif hanya saja mereka membantu sejauh yang mereka bisa. Namun terkait harga, ternyata meskipun non subsidipun tetap yang menentukan itu pemerintah.

Editor : Ainun Najib
Artikel Terkait
10 hari lalu

Pencuri BBM di Gowa Bawa Sajam Mengamuk saat Akan Ditangkap, Polisi Lepaskan Tembakan

11 hari lalu

Viral di Sampang! Antrean Panjang BBM Berujung Ricuh, Dipicu Sikap Petugas SPBU

12 hari lalu

2.000 Liter BBM Subsidi Diduga Bio Solar Diamankan di Nagan Raya, Polisi Buru Pemiliknya

15 hari lalu

Sopir Truk di Pelalawan Antre 2 Hari demi Solar Subsidi

17 hari lalu

Pertalite Langka, Antrean Kendaraan di SPBU Bangkalan Mengular

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal