“Penelitian Mas Maxi yang saya bimbing ini kemudian dibantu oleh Bapak Thasun Amarashinge dari BRIN beserta kolega beliau. Akhirnya teridentifikasi sebagai spesies baru dan diterbitkan dalam jurnal tersebut,” ujar Donan dikutip dari situs UGM, Selasa (16/9/2025).
Donan menjelaskan bahwa Dibamus oetamai memiliki ciri morfologi yang membedakannya dari spesies lain dalam genus yang sama, terutama pada bagian kepala.
“Sisik bagian frontalnya juga lebih besar daripada frontonasal. Kemudian sisik interparietal tampak jelas lebih kecil dari frontonasal, sisik nuchal berjumlah 4-6 buah, sisik postocular dua buah, sisik supralabial satu buah, dan masih ada lagi karakter pembeda di bagian badan dan ekornya,” ucapnya.
Meski menjadi temuan yang signifikan, Donan mengingatkan bahwa spesies ini berpotensi terancam karena hanya ditemukan di Pulau Buton, tepatnya di hutan lindung Kakenauwe dan Lambusango pada ketinggian di bawah 400 meter. Habitatnya berupa hutan hujan musiman dengan lapisan serasah yang tebal.
“Jadi kemungkinan besar kelestarian spesies ini terancam di masa depan karena spesies ini hidupnya tergantung pada keberadaan hutan,” katanya.
Dia juga menekankan pentingnya menjaga kawasan hutan, terutama di pulau-pulau Indonesia, karena masih banyak spesies yang belum teridentifikasi.
“Jika memungkinkan, saya ingin memberikan masukan kepada Pemerintah untuk tidak membuka hutan atau mengubah hutan sebagai tempat aktivitas manusia, karena masih banyak spesies baru di dalam area berhutan dimanapun, terutama di pulau-pulau di Indonesia seperti Pulau Buton,” ucapnya.