Sebuah artikel berjudul ‘Budaya Spriritual dalam Ritual di Pantai Parangkusumo-Yogyakarta’ menyebut, setiap tahun, tepatnya hari ke-30 dari kalender Jawa bulan Rajeb akan dilaksanakan ritual sakral di pantai ini. Sesajen berupa makanan, bunga, pakaian, kuku dan rambut Sultan juga disediakan dan dilempar ke laut lepas.
Di sisi lain, pantai ini juga menyajikan beragam wahana yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Seperti paralayang, berkeliling dengan delman, naik ATV, atau bahkan mengendarai kuda sendiri dan berjalan-jalan menikmati indahnya pantai Parangkusumo. Para wisatawan juga bisa menikmati keindahan air terjun Parang Endog di sisi timur pantai.
7. Pantai Parangtritis
Masih berdekatan dengan Pantai Parangkusumo, Pantai Parangtritis pun kental akan mitos seputar Nyi Roro Kidul. Jurnal Domestic Case Study 2018 dengan judul ‘Pantai Parangtritis di Daerah Istimewa Yogyakarta’ menyebut, pantai ini merupakan pantai di Yogyakarta yang paling banyak menyumbang pendapatan daerah.
Nama Parangtritis konon bermula saat ada seseorang dari Kerajaan Majapahit bernama Dipokusumo yang melarikan diri. Ia bersemedi di pantai itu dan melihat ada air menetes atau tumaritis dari sela-sela batu karang atau parang. Ia kemudian menamai wilayah tersebut sebagai Parangtritis, artinya air yang menetes dari batu. Lokasi ini diyakini pula sebagai tempat pertemuan Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga, seusai Panembahan Senopati melakukan pertapaan.
Ada sebuah mitos lain yang beredar di pantai ini, yakni pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan pakaian berwarna hijau. Sebab, Nyi Roro Kidul amat menyukai warna tersebut dan bisa saja si pengunjung diambil untuk prajurit kerajaannya.