Pameran Furniture Internasional Kembali Digelar, Sultan Khawatirkan Serbuan Produk Vietnam

erfan erlin
Gubernur DIY Sri Sultan HB X meninjau produk yang dipamerkan di JIFFINA. (Foto : MPI/erfan Erlin)

BANTUL, iNews.id-Jogja Internasional Furniture and Craf Fair Indonesia (JIFFINA) kembali diselenggarakan. Seperti biasanya, JIFFINA kali ini juga diselenggarakan di Jogja Expo Center (JEC) mulai tanggal 20-23 Agustus 2022.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengatakan dengan mengusung tema “Nature is Back for Eco Lifestyle”, JIFFINA menjelma menjadi etalase yang menyajikan harmoni etnik nusantara. Menampilkan nilai-nilai estetika, nilai-nilai budaya, sekaligus etos kreativitas yang terekspresi dalam berbagai komoditas yang ditampilkan. 

"Selain itu, pameran ini juga membuktikan bahwa seni dan budaya dapat bersanding dengan konsep eco friendly, dimana konsep ramah lingkungan menjadi prasyarat utama terhadap suatu produk kekinian," ujarnya.

Selaras dengan temanya tahun ini,  JIFFINA setidaknya perlu menerapkan enam karakteristik produk mebel dan produk kayu lainnya yang ramah lingkungan, yaitu kayu bersertifikat, mudah dibongkar dan didaur ulang, tahan lama dan mudah diperbaiki.  Berbahan insersi logam dan plastik daur ulang,  berbahan kayu reklamasi dari produk lama, dan menggunakan bahan bambu untuk aksesoris perabotan, seperti veneer, atau kerai dan lain sebagainya. 

Sultan berharap, sebanyak mungkin kriteria itu diterapkan pada produk-produk yang dipamerkan di sini. Sebab jika tidak, Sultan khawatir kita akan lebih jauh ketinggalan dari produk-produk serupa dari Vietnam yang menjadi kompetitor utama mebel Indonesia. 

Selain itu, di era disruptif inovasi saat ini, para desainer, kreator dan produsen serta marketer hendaknya solider bersinergi dalam satu tim kerja untuk bersikap antisipatif terhadap perubahan. Serta tidak lagi bisa mengandalkan kerja individual-soliter dan nostalgi subjektif pada kebanggaan masa lalu saja. 

Menurutnya, di era perubahan yang sering tidak bisa diprediksi ini, kita juga harus mencermati dan mengantisipasi perubahan dari bisnis konvensional ke O2O yaitu online to offline. Bisnis online itu ibarat menjual barang ke tempat yang tidak kita kenal. 

"Bisnis ini membutuhkan trust, karena kita juga belum pernah mengenal pembelinya, sehingga harus ekstra prudensial," ujarnya.

Editor : Ainun Najib
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kebakaran Hebat Usaha Mebel di Tulungagung, Kerugian Puluhan Juta Rupiah

57 tahun lalu

Kebakaran Hebat di Kota Jambi, Ruko Mebel Ludes Dilalap Api

57 tahun lalu

50 Orang Diperiksa Kasus Proyek Mebel SMK, Kabid hingga Mantan Kadisdikbud NTB

57 tahun lalu

Dugaan Korupsi Rp10,2 Miliar Proyek Mebel SMK di NTB, Polisi Telusuri Alur Pengadaan

57 tahun lalu

Alasan KPK Pilih Yogyakarta Jadi Tuan Rumah Hari Antikorupsi Sedunia 2025

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal