Jika sukses mengelola sifat dasar inilah, manusia akan sukses dan tidak akan terombang-ambing yang bisa membuat jatuh dan binasa. “Saya senang sekali dan bahagia bisa tampil disini,” kata Alya.
Menurut dia, menari merupakan dunia baru baginya. Selama ini dia lebih banyak menyalurkan hobi melukis dan menjadi model. Pentas kali ini menjadi pengalaman baru. “Saya benar-benar suka dan bisa belajar seni,” ungkap dara yang sedang menempuh pendidikan di Swiss German University ini.
Tarian kontemporer ini pun menjadi pengalaman pertama. Bagaimana dia harus berkolaborasi dengan dua seniman tari yang cukup kondang. Dari mereka pulalah, Alya mendapatkan banyak hal dalam belajar menari. “Persiapan konsep sejak Januari dan Februari dan mulai Mei kita berlatih,” ucapnya.
Agar bisa tampil maksimal, Alya harus rela bolak-balik Yogyakarta-Jakarta bertemu dengan Imin dan Nimas. Bahkan dalam performance kali ini menjadi kolaborasi ketiganya. Konsep Koreografi oleh Imin dan keseluruhan konseo Nimas. Alya lebih banyak berperan dalam lukisan dalam kain dan puisi. “Ini kombinasi seimbang dari kami bertiga. Lukisan dan pusisi dari saya,” ujarnya.
Dalam kain yang dibentangkan dan dipakai untuk membungkus tubuhnya, ada beberapa lukisan spiral dengan berbagai warna yang melambangkan sigat kehidupan tadi. Spiral ini menjadi representasi perjalanan hidup dari kecil hingga besar.
Bagi Muslimin yang merupakan dancer and koreofrager, Alya sangat serius dalam berlatih. Dia fokus dan selalu serius dalam latihan. Dia yang berasal dari Solo kewalahan untuk mengimbangi latihan Alya yang datang dari Jakarta. “Semangatnya bagus dan belajarnya juga cepat,” kata pria yang akrab disapa Imin.
Semangat dan keseriusan dari Alya inilah, yang menjadikan performance ini lebih cepat berkembang. Padahal Alya memiliki basis seni sebagai pelukis.