Lurah Girisekar Sutarman mengatakan Telaga Cowet telah menjadi sumber penghidupan warga. Sepanjang tahun telaga ini tidak pernah kering meski airnya agak keruh. Tahun ini kemarau sepertinya lebih pendek, sehingga dampaknya tidak begitu dirasakan.
“Dari sembilan pedukuhan, tujuh yang sudah teraliri dari PDAM. Kalau untuk mencuci dan minum ternak warga mengambil dari telaga,” katanya.
Warga dulu percaya minum air teh dari air telaga ini lebih enak dibanding air dari sumber mana pun. Bahkan sampai dengan 1990-an masih banyak yang menggunakan air ini untuk memasak. Namun dengan masifnya penyediaan jaringan PDAM, warga mulai beralih.
“Untuk yang belum teraliri PDAM masih mengandalkan dropping atau membeli,” katanya.