Sama halnya Tukirah, komoditi lain milik Partinem seperti cincau dan cendol juga menurun tak karuan. Dia menerangkan, Ramadan tahun lalu setidaknya 300 bungkus cendol kemasan laku diborong pembeli dalam jangka waktu sehari. Kini, penjualan cendol Partinem hanya di kisaran 150 bungkus perhari.
"Cincau dari 25 blek (kaleng) sehari, kini paling 3-5 blek per hari," ujarnya.
Harga kolang-kaling tengah naik di Ramadan ini. Dari awalnya Rp10.000 per kg jadi Rp15.000-20.000 per kg, nyatanya belum cukup menutup penurunan omzet yang terjadi selama pandemi.
Namun baik Tukirah dan Partinem mengaku tidak akan menutup dagangannya. Mereka berdalih meski penjualan menurun, setidaknya dagangan masih laku untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
"Buat muter saja, gak ada pilihan lain," kata Partinem pasrah.
Artikel ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul "Ramadan Sepi, Penjualan Kolang-kaling di Kulonprogo Terburuk dalam 30 Tahun"