Namun masih banyak hal di sektor pendidikan yang harus diselesaikan, khususnya menyangkut perempuan. Dia mengatakan, pendidikan di Indonesia masih abai pada persoalan perempuan. Banyak sekolah yang tidak memiliki akses khusus untuk perempuan, misalnya toilet dan sebagainya.
"Satu dari dua toilet di sekolah Indonesia itu belum dipisah antara laki-laki dan perempuan. Dan ada hampir 300.000 sekolah di Indonesia belum punya akses air bersih dan sanitasi higienis. Padahal perempuan itu harus berhadapan dengan kodratnya yakni menstruasi," ucap Kalis.
Menurut data lanjut dia, menstruasi menjadi penyumbang angka putus sekolah tertinggi kedua setelah kemiskinan. Hal itu karena tidak tersedianya fasilitas yang baik di sekolah.
Kalis juga menyoroti banyaknya siswa perempuan yang dikeluarkan dari sekolah akibat hamil di luar nikah. Padahal sebenarnya, mereka korban kekerasan seksual dan harus menghapus masa depan karena dikeluarkan.
"Belum lagi banyak kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan di mana pelakunya guru dan tenaga pendidikan. Jadi kalau Bapak ingin memperbaiki pendidikan, tolong hal semacam ini diperhatikan," katanya.