Amrizal menegaskan, aksi terorisme yang muncul lantaran pemahaman yang salah terhadap agama. Semestinya anak sebagai peserta didik dibekali dengan ilmu yang benar. Jihad tidak bisa diartikan dengan berperang atau membunuh saja.
“Belajar dengan sungguh itu juga sudah bagian dari jihad,” tuturnya.
Kepala FKPT DIY Mukhtasar Syamsudin mengatakan, pencegahan radikalisme harus dilakukan sejak anak-anak belajar di TK. Di sinilah guru memiliki peran strategis untuk menanamkan ilmu dan ajaran yang benar. Selain itu, sekolah juga harus bisa memberikan pemahanan dasar dan menanamkan toleransi, keterbukaan hingga menghargai perbedaan.
"Kalau ini bisa kita lakukan, tentunya akan mampu mencegah dan menangkal pengaruh radikalisme,” katanya.
Menurutnya, guru harus bisa memberikan konten pelajaran yang teduh, ramah dan mengedepanjan nilai toleransi. Jangan sampai ada sekolah yang mengajarkan ekslusifme. Apalagi sampai memisahkan antarsiswa muslim dan nonmuslim.