Hanik menuturkan, gas vulkanik diproduksi berkelanjutan seiring dengan berlangsungnya suplai magma. Karena itu, dinamika tekanan, gas dapat tersumbat dan terakumulasi di bawah kubah lava dan terlepas tiba-tiba, hingga mendobrak kubah lava sehingga runtuh menjadi awan panas.
“Peningkatan tekanan gas ini dapat terdeteksi oleh stasiun pemantauan. Dari pukul 00.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB telah terjadi 29 kali gempa dangkal dan 14 kali gempa embusan, jumlah gempa dangkal dan embusan ini tergolong tinggi yang merepresentasikan peningkatan tekanan dan intensitas pelepasan gas vulkanik,” papar Hanik.
Dia menjelaskan, kejadian tersebut konsisten dengan data pemantauan suhu kubah lava sekitar satu jam menjelang letusan yang menunjukkan adanya kenaikan suhu pada beberapa titik pada kubah lava sekitar 100 derajat Celcius.
“Sedangkan data pemantauan menurun dan tenang kembali setelah kejadian APL sampai dengan saat ini,” ujarnya.
Hanik mengatakan, awan panas gugur dan awan panas letusan masih akan terjadi karena suplai magma masih berlangsung yang ditunjukkan masih terjadinya gempa-gempa dari dalam, seperti gempa VTA, VTB dan MP dalam jumlah yang signifikan.
“Ancaman bahaya yang dapat ditimbulkan dari aktivitas erupsi saat ini masih sama dengan sebelum-sebelumnya, yaitu luncuran awan panas dan lontaran material erupsi di dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi,” katanya.
Terkait kejadian itu, Hanik mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa dengan rekomendasi 3 kilometer dari puncak.