Dugaan awal, keramik ini berasal dari Dinasti Tang atau Dinasti Song. Sedangkan keberadaan terakota berupa saluran air dinilai sama seperti temuan di peninggalan Kerajaan Majapahit. “Dengan penemuan itu, dulu wilayah ini merupakan permukiman maupun candi di sebagai pusat kerajaan Mataram Kuno dari di abad 8 sampai 10 Masehi,” ujar Baskoro.
Menurut Baskoro, barang-barang purbakala itu sangat dimungkinkan tertutup banjir lahar dingin Gunung Merapi pada abad ke-10. Lapisan tanahnya mirip dengan Candi Kedulan dan Candi Sambisari yang tak jauh dari lokasi, khususnya untuk jenis lapisan tanahnya.
Dugaan itu diperkuat fakta bahwa lokasi penemuan berada di tengah-tengah empat situs candi yaitu Candi Sambisari, Candi Kedulan, Candi Bromonilan, serta situs Dhuri. Keempatnya sebagai batas kota.
Selain itu, konsep pendirian kerajaan dulunya berada berada di antara dua sungai besar yaitu Kali Opak dan Kali Kuning. Selain itu masih pula ada Gunung Merapi. “Pada masa lampau, gunung dianggap sebagai tempat tinggal dewa,” ujarnya.
Atas temuan ini, tim akan menghentikan penelitian. Nantinya akan dilanjutkan pada tahun depan menunggu alokasi anggaran.
Ketua RT 5 Dusun Balong Bayen, Handoko mengatakan sejak lama batu-batu besar itu ada di lingkungannya. Warga tidak pernah tahu apakah itu batuan candi atau barang prubakala. Batuan itupun hanya diletakkan di sejulah halaman warga dan sudut-sudut rumah.
“Sejak dari kakek-kakek batu itu sudah ada, tetapi itu batuan candi atau bukan kita tidak tahu. Baru setelah ada pemberitahuan dari kita tahu itu batuan candi,” ucapnya.