Sementara itu, salah satu driver ojek online yang ikut bersih-bersih di DPRD DIY yakni Pramono Budi Antoro, 47, warga Klitren Lor, Yogya mengatakan jika dia turut ikut dalam aksi bersih-bersih yang dilakukan oleh ojek online.
"Saya tergerak dari dalam sanubari. Jangan sampai Jogja sebagai kota pariwisata justru dihiasi dengan sampah maupun kotoran. Nah, hati kami tergerak untuk membersihkan sampah sisa aksi unjuk rasa. Supaya Jogja bisa nyaman seperti sedia kala," katanya.
Pramono mengatakan jika aspirasi yang disampaikan mahasiswa sebenarnya sah-sah saja untuk dilakukan. Namun, jika aksi unjuk rasa yang diwarnai dengan anarkisme justru ditempuh di tengah jalan menurutnya bukan merupakan hal yang bijak. Dia menyayangkan hal tersebut.
"Yang pertama hadir ini sekitar 15 orang karena mendapatkan broadcast message dari WhatsApp ya. Kemungkinan, nanti semakin malam semakin banyak pesertanya yang ikut bersih-bersih," kata Pramono.
Pramono lebih memilih untuk beroperasi di luar wilayah Malioboro ketika mengetahui aksi demonstrasi dilakukan di tempat yang menjadi ikon wisata Yogya tersebut. Apalagi, ditambah dengan aksi anarkistis yang akhirnya mewarnai aksi penolakan massa aksi terhadap disahkannya Omnibus Law Cipta Kerja.
"Keluarga saya yakin kalau campur tangan Tuhan itu ada ketika kita bekerja untuk sosial. Kalau kita saling tolong-menolong itu kan alangkah indahnya. Kalau kita bisa menolong sesama kan artinya hidup kita bermanfaat," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul "Ojol Bersih-Bersih Sisa Sampah di Malioboro Pasca Kericuhan Aksi Unjuk Rasa"