3 Ciri Khas Makanan Yogyakarta dan Varian Kuliner yang Harus Dicoba

Endang Ayu Puji Astutik
Gudeng menjadi salah satu makanan khas Yogyakarta bercita rasa manis. (foto: istimewa)

Sate Klathak

Menurut kemendikbud, Sate klathak adalah sate yang berbahan dasar daging kambing muda. Bagian uniknya merupakan tusuk sate yang digunakan tidak terbuat dari bambu, tetapi dari besi jeruji sepeda. Penggunaan jeruji besi ini dimaksudkan agar daging kambing muda lebih cepat matang karena dapat menghantarkan panas yang merata. 

Nama sate klathak berasal dari suara sate ketika dibakar. Saat proses pengolahan sate, sebelum daging kambing dibakar telah ditaburi dengan garam terlebih dahulu. 

Sate klathak (Foto : tripadvisor.com)

Sehingga, pada saat dibakar terdengar suara unik klathak-klathak seperti suara benda retak. Penjual sate klathak banyak terdapat di daerah Pleret, Bantul.

Brongkos

Berongkos (atau disebut brongkos oleh masyarakat Jawa) adalah salah satu olahan sayur yang terbuat dari daging sapi, terutama pada bagian sandung lamur (bagian daging sapi yang berasal dari bagian dada bawah, sekitar ketiak). Ciri khas dari masakan ini adalah penggunaan kluwek sebagai bumbu sehingga sayur berwarna gelap dan beraroma khas. 

Sayur brongkos banyak digemari banyak orang, salah satunya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X. Konon pada awalnya, istilah brongkos ini berasal dari kata bronkhorst yang merupakan campuran dari bahasa Inggris dan Prancis. Bornhorst memiliki arti masakan daging yang berwarna coklat. Namun, karena lidah orang Jawa sulit melafalkannya maka disebutlah brongkos.

Gathot

Namanya yang cukup unik menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya. Begitu juga dengan cita rasanya. Sebelum disajikan, gatot yang terbuat dari singkong akan dikupas lalu dijemur hingga kering. 

Gatot adalah bahan sisa dari olahan tiwul yang tidak terproses. Baik tiwul maupun gatot keduanya terbuat dari singkong.

Nasi Tiwul

Nasi ini terbuat dari olahan singkong sebagai pengganti beras. Penciptaan kuliner ini dilatarbelakangi oleh mahalnya harga beras saat penjajahan Jepang berlangsung. Sehingga dibuatlah nasi tiwul untuk menyiasati harga beras yang mahal pada zamannya

Editor : Kuntadi Kuntadi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Info Loker Jogja Terbaru 2026: Peluang Terbuka di Sektor Jasa, Gaji Sesuai UMK

57 tahun lalu

Puncak Arus Balik Lebaran di Stasiun Tugu, Ribuan Pemudik Tinggalkan Yogyakarta

57 tahun lalu

Polda Jabar Siapkan Mudik Gratis Lebaran ke Solo dan Yogyakarta

57 tahun lalu

Jadwal Buka Puasa Ramadhan 2026 Jogja Hari Ini versi Muhammadiyah, Lengkap dengan Doa Berbuka

57 tahun lalu

Jadwal Imsak Puasa Ramadhan 2026 Muhammadiyah untuk Wilayah Jogja & Sekitarnya

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal