6 Upacara Adat Sumatera Utara, Nomor 4 Gunakan Boneka Panggil Roh

Nani Suherni
Upacara Adat Sumatera Utara, Mangongkal Holi (Foto: Ilustrasi/AFP)

3. Tarian Sigale-Gale

Upacara adat Sumatera Utara, Tarian Sigale-gale (Foto: TikTok/adyjuniarsyah_18193)

Upacara adat Sumatera Utara ini berbau mitos. Dahulu kala jika ada seseorang yang terkemuka meninggal dunia namun belum memiliki keturunan itu dinilai sebuah kesialan. Untuk mencegah hal itu, maka diadakan ritual tarian duka menggunakan boneka kayu yang dikenal dengan Sigale Gale.

Versi lain menyebutkan jika tari si gale-gale tercipta karena seorang raja yang tinggal di wilayah Toba. Disebutakn sang raja memiliki seorang anak yang bernama Manggale. 

Sang raja saat itu memerintahkan Manggale untuk berperang. Nahas nyawa sang anak tewas saat peperangan tersebut. Raja yang terus tertekan pun kondisinya memburuk hingga tabit istana memberikan saran untuk raja membuatkan pahatan patung dari kayu dengan wajah menyerupai anaknya. 

Saat patung tersebut telah selesai, seorang tabib kerajaan pun melakukan upacara ritual dengan meniup sordam dan memanggil roh anak sang raja untuk dimasukan kedalam patung tersebut. Kesehatan sangraja pun semakin membaik ketika melihat patung  tersebut persis dengan wajah anaknya.

4. Tarian Gundala-Gundala

Upacara adat Sumatera Utara selanjunya ada gundala-gundala. Upacara adat ini merupakan sebuah tarian yang berasal dari Suku Karo. Disebutkan dalam portal resmi Budaya Indonesia, tarian ini digunakan sebagai ritual pemanggil hujan dalam upacara Ndilo Wari Udan ketika terjadi kemarau panjang.

Terciptanya Upacara adat Sumatera Utara ini berawal dari seorang raja bernama Sibayak. Saat itu, sang raja bertemu dengan seekor burung raksasa. Rupanya burung itu jelmaan seorang pertapa sakti bernama Gurda Gurdi. 

Dia pun membawa pulang Gurda Gurdi dan dijadikan sebagai penjaga putrinya. Burung Gurda Gurdi ini ternyata memiliki kekuatan yang bersumber pada paruhnya. 

Namun, tanpa sengaja paruh tersentuh oleh sang putri.  Gurda Gurdi menjadi marah besar dan memberontak. Mengetahui hal tersebut, Raja Sibayak mengutus pasukannya untuk menyerang Gurda Gurdi hingga mati.

Kematian Gurda Gurdi rupanya menimbulkan kesedihan bagi masyarakat Karo hingga langit pun hujan lebat seolah-olah ikut menangis. Lewat cerita itu, akhirnya muncul ritual Gundala-Gundala.

Biasanya para penari yang ikut dalam ritual ini akan mengenakan aksesoris berupa topeng dan pakaian khusus yang unik.

Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kantongi 12 Dukungan Pengcab, Hidayat Batubara jadi Calon Tunggal Ketua POBSI Sumut

57 tahun lalu

Natal di Tengah Bencana, Polri Ubah Posko Pengungsian jadi Tempat Ibadah Sementara

57 tahun lalu

1.000 Unit Hunian Tetap Disiapkan untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumut

57 tahun lalu

Korban Tewas Banjir-Longsor di Sumatra Bertambah jadi 1.016 Orang, 212 Hilang

57 tahun lalu

LAZ Gerakin Salurkan Bantuan Ribuan Paket Logistik ke Korban Banjir Aceh dan Sumut

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal