Kapolda Sumut Usulkan Penghargaan ke Anggota yang Ungkap Kasus Hakim PN Medan
Lebih lanjut Vensya menegaskan, untuk menurunkan angka kejadian difteri dibutuhkan peran surveilans, yaitu memberikan edukasi dalam pengawasan diri bagi pasien, keluarga dan juga orang-orang yang kontak erat dengan pasien. Ia juga mengingatkan, agar setiap kasus yang ditemukan dapat di follow up oleh Dinas Kesehatan.
"Setiap orang yang kontak erat dengan pasien wajib diberikan obat. Namun ada beberapa kasus yang menolak, alasan karena mual. Akibatnya penyakit ini terus berkembang. Namun untuk Sumut kami sangat mengapresiasi kinerja Tim KLB Difteri Rumah Sakit Adam Malik," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUP Haji Adam Malik, dr Bambang Prabowo mengatakan, Gubernur Sumut telah sangat menaruh perhatian terhadap peningkatan kasus difteri di Sumut. Dimulai dengan kasus pada Mahasiswa Malaysia dengan diagnosa suspek difteri pada September lalu.
"Dan kami, Rumah Sakit Adam Malik sudah membentuk tim dengan dokter-dokter kami yang handal dibidang ini," ujarnya
Bambang menambahkan, kasus difteri pada pasien Mahasiswi USU asal Malaysia yang meninggal setelah dua hari dirawat di RSUP Haji Adam Malik akan menjadi masalah besar ketika dihadapkan dengan pihak lain. Misalnya bagi Negara Malaysia, karena kasus tersebut, pelayanan kesehatan di Indonesia kemudian dinilai kurang.
"Berdasarkan pada hal ini, Ditjen P2P Kementerian Kesehatan RI hadir untuk memberikan bimbingan terpadu mengenai penanganan penyakit difteri," katanya.
Melalui pertemuan ini diharapkan kasus difteri dapat berkurang, dengan didukung adanya anggaran, sarana dan prasarana dari pemerintah. "Setiap pihak tekait dapat bekerjasama dan ambil andil sesuai dengan bidangnya," ucap Bambang.