“Sementara untuk tahun 2022 diperkirakan dapat lebih resilient dengan persiapan dan penerapan pola hidup baru dalam living with endemic,” ujar Joko.
Menurut Joko, positioning industri BPR-BPRS yang dilihat dari perkembangan aset, perkembangan KYD (kredit yang diberikan), perkembangan tabungan, dan perkembangan deposito secara perlahan mulai menunjukkan perbaikan.
Namun demikian, kata Joko, industri BPR-BPRS masih harus menghadapi tantangan lainnya. Misalnya dengan maraknya persaingan penyedia jasa keuangan di segmen mikro, kecil, dan menengah.
“Segmen mikro, kecil, dan menengah itu merupakan segmen yang banyak dijadikan idola lembaga jasa keuangan dalam menjalankan bisnisnya,” kata Joko.
Karena itu, Joko mengimbau kepada para pemilik dan pengurus BPR-BPRS di seluruh Indonesia untuk dapat meningkatkan daya saing guna bertahan di segmen mikro, kecil, dan menengah (MKM).