Dilansir dari laman nu.or.id, ada tiga alasan nabi Muhammad kecil menggembala kambing, yaitu membantu meringankan beban ekonomi pamannya, Abu Thalib. Kedua, menggembala kambing tidak membutuhkan modal. Terakhir, nabi Muhammad senang berada di padang yang luas. Melalui menggembala kambing, Nabi Muhammad bisa menemukan tempat untuk berpikir tanpa diganggu oleh siapa pun.
Di usia remajanya, Nabi Muhammad ikut dengan sang paman dalam kafilah dagang ke Syam. Sejak saat itu, nabi mendalami dunia perdagangan. Hingga akhirnya, Nabi Muhammad SAW ikut berdagang dengan pamannya setelah mendapatkan tawaran dari seorang saudagar kaya.
Nabi Muhammad SAW berdagang bersama Maisaroh, budak Sayyidah Khadijah, dengan membawa beberapa barang dagangan yang berupa kain-kain. Karena kejujuran dan kerja keras, serta sifatnya yang amanah, dagangannya laku terjual dan mendapatkan untung yang banyak. Mendengar kabar tersebut, Sayyidah Khadijah terkesima dengan Nabi Muhammad dalam mendagangkan barangnya.
Dalam Sirah Nabawiyyah, al-Mubarakfury menjelaskan bahwa Nabi Muhammad bersama As-Saib bin Abus-Saib memulai bisnis. Bagi Nabi, Abus-Saib adalah rekan yang baik dalam bisnis, mereka tidak pernah berselisih dan tidak curang.
Di usia yang hampir 40 tahun, nabi telah terbiasa memisahkan diri dari masyarakat dan merenung ke Gua Hira. Pada 17 Ramadhan 611 M, Malaikat Jibril mendatanginya dan menyampaikan wahyu Allah yang pertama yakni Surat Al ‘Alaq ayat 1-5.