43. Di mana hati nurani kamu saat melihat saudara sendiri sedang berada dalam kesusahan?
44. Apakah kamu tega melihat sesama manusia atau anak-anak itu kelaparan?
45. Harus menunggu berapa banyak korban lagi agar jalanan diperbaiki?
46. Tidakkah kamu merasa takut dengan azab tuhan?
47. Apakah sudah hilang rasa malu kamu sehingga tidak merasa rishi berpakaian terbuka seperti itu?
48. sudikah kamu menjadi orang susah yang tidak punya apa-apa?
49. Apa menurutmu berbuat tindakan seburuk itu tidak berdosa?
50. Apakah kita diam saja saat lingkungan sekitar dirusak?
51. Apakah hubungan kita semuanya harus sampai disini saja?
52. Bagaimana bisa kamu mengabaikan ibumu sendiri?
53. Tidak sadarkah kamu bahwa gaji yang sungguh besar itu berasal dari tetesan keringat rakyat kecil di bangsa ini?
54. Bukankah kamu merugi saat bolos sekolah?
55. Apakah kamu sudah buta sampai menginjak piringku?
56. Apakah kita setega itu membiarkan dia bekerja sendirian?
57. Apakah kamu tidak takut dengan hukuman yang akan kita terima jika kita membolos?
58. Bukankah berbohong kepada orang tua termasuk dosa besar?
59. Apakah kamu tidak mendengar apa yang sudah aku katakan?
60. Apakah kamu tidak mengerti juga setelah semuanya ini terjadi?
61. Di mana mereka saat kita sedang dilanda kesulitan?
62. Apakah kita sudah telat memulai semuanya dari awal?
63. Sudahkah kita lebih baik dari orang–orang yang kita bicarakan ini?
64. Kau hidup dimana baru tau ada teknologi e-mail?
65. Apakah perbuatan main hakim sendiri itu langkah yang tepat?
66. Sudah sore seperti ini, kamu baru pulang?
70. Bukankah kamu merugi saat bolos atau tidak masuk sekolah?
71. Terlalu banyak populasi makhluk hidup di bumi ini. Bukankah itu artinya sudah waktunya Kami untuk mengurangi populasi manusia agar kembali terbentuk keseimbangan pemenuhan kebutuhan?