Hamilton mengatakan virus serupa tetapi tidak identik diidentifikasi pada kelelawar tapal kuda. Hal itu menunjukkan bahwa virus tersebut ditularkan terlebih dahulu ke hewan, atau inang perantara, sebelum menginfeksi manusia. “Saat kami melakukan pengawasan hewan, itu sulit, seperti mencari jarum di tumpukan jerami,” ucapnya.
Peter Ben Embarek, pakar utama penyakit hewan WHO, bulan lalu mengatakan misi tersebut ingin mewawancarai pekerja pasar tentang bagaimana mereka terinfeksi virus tersebut. "Tidak ada yang menunjukkan bahwa itu adalah buatan manusia," katanya.
Juru bicara WHO Tarik Jasarevic mengatakan bahwa tim internasional sedang mengerjakan pengaturan logistik untuk melakukan perjalanan ke China secepat mungkin. "Kami berharap tim bisa melakukan perjalanan pada Januari,” katanya dalam email balasan email menjawab pertanyaan Reuters.