Pascasidak tersebut, DPRD OKU berencana segera memanggil pihak Bulog untuk memberikan pertanggungjawaban terkait kondisi itu. Bulog harus bisa menjelaskan keapda masyarakat penyebab ribuan ton beras membusuk di gudang itu sementara masyarakat masih banyak yang membutuhkan beras.
“Kami akan koordinasi, kami segera memanggil Bulog. Kami pingin tahu apa penyebab ini dan harus mendapat solusi. Bulog harus bertanggung jawab atas kondisi ini karena 6.000 ton di OKU Raya bukan sedikit,” kata Yopi Syahrudin.
Sementara salah seorang staf Gudang Bulog Terukis Rahayu, Mukhsin mengatakan, di gudang itu terdapat 3.000 ton beras produksi tahun 2015 dan 200 ton gula tahun 2018. Beras yang sudah busuk juga disimpan di beberapa gudang Bulog lain sehingga total ada 6.000 ton yang kondisinya sudah membusuk. Bulog membeli beras dari mitranya FH dan BR seharga Rp8.000 per kilogram (kg).
“Saya enggak tahu kendalanya kenapa beras ini tidak didistribusikan. Kami memang sudah melakukan perawatan, tapi kendalanya mungkin di hama beras yang sebelumnya sudah banyak,” katanya.
Terpisah, Gubernur Sumsel Herman Deru juga angkat bicara saat terkait keberadaan ribuan ton beras tersebut. Dia pun sangat menyayangkan jika benar itu terjadi. Artinya ada yang salah dengan manajemen gudang dan pengelolaan Bulog di OKU. “Manajemen pergudangannya harus dibenahi,” katanya.
Pantauan di Gudang Bulog Terukis Rahayu, bukan hanya 3.000 ton beras saja yang tertimbun membusuk. Anggota DPRD OKU juga menemukan 200 ton gula pasir yang sudah kedaluwarsa.