Mengutip Prof S Husin Ali, Guru Besar dari Universitas Malaya di laman Kebudayaan Kemendikbud, gelombang kedua kedatangan ras rumpun Melayu terjadi sekitar tahun 300 SM. Bangsa gelombang kedua ini disebut Deutro-Melayu yang kedatangannya memaksa bangsa Proto Melayu menyingkir ke pedalaman dan ada pula yang berbaur dengan pendatang. Bangsa Deutro Melayu inilah yang menjadi cikal-bakal rumpun Melayu yang ada di sebagian Indonesia termasuk nenek moyang orang Palembang.
Selanjutnya, antara abad VII-XIII pada masa jaya Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang, wilayah kekuasaannya menyebar di seluruh Sumatera, Selat Melaka dan Semenajung Tanah Melayu.
Pada masa Sriwijaya ini, pendatang dari China sudah mulai datang atau sekedar singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke India untuk mendalami ilmu agama.
Kemudian pada abad ke-13 dan 14, Palembang pernah menjadi wilayah di bawah kekuasaan Majapahit. Selanjutnya wilayah ini pernah menjadi daerah tak bertuan sehingga menjadi sarang bajak laut. Salah satu sejarah yang paling terkenal, Laksmana Cheng Ho datang dengan pasukannya untuk menumpas perompak dari China.
Kemudian berdiri kesultanan Palembang dan pendatang dari China dan timur tengah berdatangan. Pendatang dari timur tengah mendirikan perkampungan tersendiri yang bertahan hingga saat ini dan menjadi objek wisata.
Sementara pendatang dari China membaur dan terjadi perkawinan yang membuat orang Palembang di masa kini lebih dikenal berkukit putih dan bermata sipit, sehingga membentuk orang melayu baru.
Demikian pembahasan mengenai nenek moyang orang Palembang yang termasuk rumpun melayu namun kini berkulit putih dan bermata sipit.