“Orang tua petani dan ibu rumah tangga. Untuk bantu keluarga, dia bekerja sebagai penyadap karet di kebun orang lain. Sahat membuktikan untuk jadi prajurit tidak harus mengeluarkan biaya yang besar apalagi menyuap,” ujar Sapta.
Saat diwawancarai selesai upacara penutupan pendidikan, Prada Sahat Maruli Sihite tampak bangga duduk di samping kedua orang tuanya.
“Jadi tentara itu cita -cita saya sejak kecil. Sejak SMA, saya latihan lari, push up dan lain-lain di Yonkav 5 sedangkan untuk psikologi, saya belajar dari YouTube, medsos, perpustakaan di kota ataupun buku-buku,” kata Sahat Maruli.
Sebelum pendidikan di Rindam II/Swj, dia pernah bekerja sebagai penyadap karet di kebun orang lain dan mendapatkan upah Rp80.000 per hari.
“Saya juga pernah tes dan 2 kali gagal yaitu seleksi Bintara TNI AD dan Tamtama TNI AD,” ucapnya.