"Mungkin yang tidak ada penyakit bawaan memang jumlah virus Covid-19 di dalam tubuh terbilang tinggi, sehingga kondisi pneumonia yang disebabkan Covid-19 tidak mampu tertolong," kata dia.
Sementara dari 57 kasus yang terdata, hipertensi berada di urutan teratas dengan 15 kasus, disusul diabetes mellitus dengan sembilan kasus, asma sembilan kasus, tuberkulosis enam kasus, ginjal ada lima kasus, stroke ada lima.
“Kemudian penyakit jantung dua kasus, serta batuk menahun, hipertiroid, maag akut, demam berdarah dengue, tipes, dan kanker masing-masing satu kasus,” kata dia.
Secara klinis hipertensi mendukung perkembangan Covid-19 di dalam tubuh karena jumlah Angiotensin converting enzyme 2 atau ACE2 atau yang berfungsi mengatur tekanan darah dan menjadi reseptor mengalami kenaikan.
"Covid-19 membutuhkan reseptor untuk melekat agar bisa masuk ke dalam sel, ketika jumlah ACE2-nya meningkat maka virus semakin mudah masuk ke dalam sel karena tempat menempelnya juga semakin banyak," kata dia.
Sementara hipertensi, diabetes militus atau kencing manis, kata dia, umumnya diderita kalangan usia lanjut sehingga menimbulkan degeneratif, yakni kondisi memburuknya suatu jaringan atau organ seiring waktu dan membuat imunitas melemah.
“Dua penyakit tersebut disebabkan pola hiudp kurang sehat seperti konsumsi karbohidrat berlebihan, jarang berolahraga dan hanya 20 persen dipengaruhi faktor keturunan,” kata dia.