Untuk mengatasi kendala itu, lanjut Maryadi, saat ini pihaknya telah mengajukan pembangunan akses jalan baru sepanjang 9,8 kilometer menuju lokasi, hanya saja jalan baru tersebut sebagian besar menggunakan lahan hutan lindung.
"Untuk dapat membangun jalan baru itu, kami masih menunggu izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menggunakan lahan tersebut. Selain itu, kami juga sedang melakukan pembebasan lahan yang menjadi milik warga," katanya.
Untuk pembebasan lahan, Maryadi menargetkan rampung pada Mei 2022 mendatang, termasuk juga beberapa lahan yang digunakan untuk konstruksi proyek. "Sebagian besar lahan proyek juga masih ada yang belum dibebaskan. Targetnya seluruh lahan sudah bebas di Mei 2022 tahun depan," ucapnya.
Selain akses jalan dan pembebasan lahan, Maryadi menerangkan, pihaknya harus melakukan review desain. Pasalnya, saat melakukan kegiatan penggalian, dasar tanah bendungan merupakan tanah lunak. "Jadi kami harus menyesuaikan konstruksinya dengan kondisi tanah yang ada," katanya.
Meski menemui sejumlah kendala, progres pembangunan bendungan tersebut masih berjalan sesuai dengan jadwal pelaksanaan. BBWSS Wilayah VIII Palembang menargetkan progres pembangunan bendungan bisa mencapai 29 persen di akhir tahun 2021. "Tidak ada keterlambatan, progresnya masih on the track," kata Maryadi.