Perihal sandi itu banyak tertuang dalam karya tulis seperti Sastra Kawi (Nasihat), Macapat (Wejangan), Babad (Sejarah), Suluk (Jalan Supranatural), Kidung (Doa), Piwulang (Pengajaran), dan Primbon (Himpunan). Semua tersaji dalam aksara jawa atau huruf pegon.
Aliran Kejawen memiliki konsep seimbang tanpa terpaku oleh aturan yang ketat. Sifat ini paling mirip dengan sifat yang ada pada konfusianisme atau agama Konghucu, akan tetapi konsep ajarannya berbeda.
Perilaku atau ibadah dalam ajaran kejawen ini berupa instrumen adat khas Suku Jawa, seperti wayang, keris, pembacaan mantra, pemakaian bunga-bunga tertentu yang memiliki simbol dan filosofi tertentu dan lain sebagainya.
Semua simbol itu memiliki dan dapat menampakkan sisi yang magis sehingga banyak orang yang memanfaatkan kejawen dengan praktik agama, kesehatan bahkan perdukunan. Padahal hal itu tidak diajarkan di aliran kejawen ini.
Kehebatan aliran ini adalah kemampuannya dalam beradaptasi dan mampu mengadopsi ajaran agama pendatang, seperti Hindu, Kristen, Budha, maupun Islam. Hal ini dianggap sebagai gejala sinkretisme yang memperkaya cara pandang tentang perubahan zaman.