Kejadian karhutla di enam kabupaten/kota ini umumnya mulai terjadi di Mei lalu mengalami puncak pada Oktober. Atas dasar ini, Satgas Karhutla sudah disiagakan sebelum Mei sebagai langkah antisipasi dan mitigasi.
“Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, Sumsel sudah mengetahui kapan saat yang menjadi prioritas dalam penanganan karhutla,” katanya.
Menurutnya, dalam perencanaan terkait penanggulangan karhutla ini harus disesuaikan dengan curah hujan karena dari riset yang dilakukan sebelumnya diketahui terdapat kaitan erat antara hotspot dan curah hujan.
Perlu juga dicermati untuk penanggulangan karhutla tahun 2022 ini bahwa kini terjadi pergeseran pola kebakaran jika mengamati berdasarkan fungsi ekosistem gambut.
Pada 2015, karhutla banyak terjadi di hutan produksi sementara pada 2019 di kawasan HPL (Hak Penggunaan Lain). Pada 2015 juga banyak terjadi pada gambut fungsi lindung, sedangkan pada 2019 beralih ke gambut fungsi budidaya.