"Artinya karena pergerakan lempeng atau sesar sebagai penyebab utama (driving forces) masih terus bergerak dan akumulasi energinya masih melebih kemampuan dari kekuatan batuannya. Batuan yang rapuh di sekitar pusat gempa bumi masih akan terus terdeformasi (terbentuk atau tertata) kembali sampai mencapai formasi ideal yang persinggungan baru yang dapat mengumpulkan (mengakumulasi) kembali energi ini," katanya.
Dengan mengasumsikan kekuatan batuan di sekitar wilayah pusat gempa bumi adalah konstan atau tetap menurut periode waktu, informasi di atas dapat menjelaskan mengenai bagaimana gempa bumi dengan kekuatan magnitudo yang besar memiliki periode pengulangan. Periode pengulangan ini jauh lebih lama dibandingkan dengan gempa bumi dengan kekuatan magnitudo yang lebih kecil.
"Sederhananya untuk membangun akumulasi atau penumpukan energi yang besar, dibutuhkan waktu yang lebih lama atau jauh lebih lama," ucapnya.
Menurutnya, Sulut berada di wilayah yang rawan gempa bumi. Setiap hari wilayah ini terjadi gempa bumi, tetapi tidak semua guncangannya dirasakan manusia.
Situasi tatanan geo-tektonik di wilayah ini yang diapit beberapa lempeng tektonik dan dilewati beberapa patahan (sesar), menyebabkan tingginya aktivitas kegempaan di Sulut.