Upacara Adat Tulude, Warisan Tradisi Leluhur Masyarakat Nusa Utara

Subhan Sabu
Upacara adat Tulude merupakan hajatan tahunan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara (kepulauan Sangihe, Talaud dan Sitaro).  (Foto: Istimewa)

Kemudian, persiapan-persiapan pasukan pengiring, penari tari Gunde, tari salo, tari kakalumpang, tari empat wayer, kelompok nyanyi masamper, penetapan tokoh adat pemotong kue adat tamo, penyiapan tokoh adat pembawa ucapan Tatahulending Banua, dan tokoh adat pembawa ucapan doa keselamatan.

Kemudian seorang tokoh pemimpin upacara yang disebut Mayore Labo, dan penyiapan kehadiran Tembonang u Banua (pemimpin negeri sesuai tingkatan pemerintahan pelaksanaan upacara seperti kepala desa, camat, bupati/wali kota atau gubernur) bersama Wawu Boki (isteri pemimpin negeri) serta penyebaran undangan kepada seluruh anggota masyarakat untuk hadir dengan membawa makanan untuk acara Saliwangu Banua (pesta rakyat makan bersama).
 
Waktu pelaksanaan upacara adat Tulude adalah sore hari hingga malam hari selama kurang-lebih 4 jam. Waktu 4 jam ini dihitung mulai dari acara penjemputan kue adat Tamo di rumah pembuatan lalu diarak keliling desa atau keliling kota untuk selanjutnya dibawa masuk ke arena upacara.

Sebelum kue Tamo ini dibawa  masuk ke arena upacara, Tembonang u Banua (Kepala Desa, Camat, Walikota/Bupati atau Gubernur wajib sudah berada di bangsal utama untuk menjemput kedatangan kue adat ini.

Gubernur Sulut, Olly Dondokambey ketika menghadiri upacara adat Tulude yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro, Minggu (30/1/2022) mengaku sangat bangga di mana masyarakat memiliki ketulusan untuk menjaga warisan dan nilai-nilai leluhur.

“Bahwasannya segala tuntunan dan penyertaan Tuhan itu harus disyukuri. Hal ini harus disadari dengan cara konstruktif serta bernilai positif,” kata Gubernur Olly

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Olly menyerukan imbauan kepada seluruh masyarakat agar tetap menjaga dan merawat serta tidak terpengaruh dengan hadirnya budaya asing serta modernisasi.

"Indonesia khususnya Kabupaten Sitaro memiliki adat-istiadat dan budaya yang jauh lebih hebat serta eksotis, sehingga layak untuk dikembangkan. Janganlah terpana dengan gaya dari luar. Karena kita punya budaya beradab yang harus kita rawat dan dipertahankan,” tutur Gubernur Olly.

Editor : Cahya Sumirat
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Langkah Gubernur Sulut Perkuat Stabilitas Daerah, Ketua DPW Perindo Ditunjuk sebagai Wakil Ketua FKDM

57 tahun lalu

Gempa Besar M7,1 Guncang Melonguane, Terasa Kuat di Manado hingga Ternate 

57 tahun lalu

Kemensos Kirim Bantuan untuk Korban Banjir Bandang Sitaro, 4 Kecamatan Terdampak

57 tahun lalu

Status Gunung Ruang di Sitaro Turun ke Level I Normal, PVMBG Imbau Warga Tetap Waspada

57 tahun lalu

Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Kembali Guncang Melonguane Sulut Pagi Ini

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal