Falsafah ini juga menjadi cara dan pandangan hidup, sekaligus alat pemersatu dan penjaga kerukunan hidup masyarakat. Sebab ada dimensi moral di dalamnya, mencakup menjunjung tinggi rasa toleransi, rasa hormat kepada orang tanpa memandang ras, agama dan keyakinan.
Siap membantu sesama tanpa memandang latar belakang dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin serta mengedepankan demokrasi.
Masyarakat Sulut, khususnya di Kota Manado, sekalipun heterogen dan dalam segi jumlah didominasi yang beragama Kristen, sejauh ini telah berhasil mengembangkan suatu model interaksi dan relasi antarumat beragama secara setara, toleran serta tidak eksklusif.
Dalam hal ini, nilai-nilai budaya yang mendasari yakni falsafah hidup sitou timou tumou tou dan torang samua basudara. Kemudian nilai budaya mapalus (kerja sama), nilai budaya demokrasi, nilai budaya anti diskriminasi dan nilai budaya silaturahmi.
Lewat lima nilai budaya tersebut, masyarakat Manado yang beragam religi, membangun dan menguatkan diri sebagai kota berwajah ramah dalam hal kebebasan antarumat beragama. Interaksi sehat ini memunculkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup rukun dan damai.