"Saat saya menurunkan kaca mobil bermaksud memberitahukan cara membuka pintu, tiba-tiba beberapa orang sudah memukuli saya. Untung saja ada keluarga yang menghalangi. Keluarga meminta menutup kembali kaca mobil dan yang lain menutup pintu belakang mobil. Jenazah masih dalam mobil, kemudian disuruh jalan lagi," katanya.
Faldo lalu menjalankan ambulans sampai ke kompleks perkuburan. Mesin dan lampu mobil diminta dimatikan. Jenazah kemudian diturunkan keluarga untuk dikuburkan. Dia kemudian diminta kembali pulang.
"Pas berjalan sekira 20 meter di tempat gelap, tiba-tiba hujan batu. Ambulans diserang dengan batu. Saya langsung tancap gas sampai ke rumah sakit," ucapnya.
Dia mengaku tidak tahu siapa yang melakukan perusakan karena dari pihak keluarga ada pro kontra, menerima dan menolak pemakaman Covid-19. Namun dia bersyukur masih ada keluarga lain yang mengerti dan menerima jenazah untuk dikuburkan sesuai protap Covid-19.
"Mungkin kalau tidak ada pro kontra, saya sudah habis, tidak selamat. Karena ada yang berteriak akan membakar saya," tuturnya.